Posted by: robertsumardi | May 24, 2012

Unas dan Lembaga Bimbingan Belajar

Unas  dan Lembaga Bimbingan Belajar

Oleh: Sumardi

 

Membaca kolom Jati Diri di Jawa Pos (Rabu, 23 Mei 2012) yang berjudul “Menanti Unas Tak Lagi Menjadi Momok” tampaknya menarik untuk dicermati. Kolom itu telah membuat banyak kalangan, terutama para guru dan mungkin orang tua, terbelalak dan sekaligus termenung. Ketika suatu masa Unas akan segera datang, tidak sedikit siswa dan orang tua yang ramai-ramai mendatangi Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) guna memanfaatkan jasa bimbingan belajar yang ditawarkan LBB itu agar siswa (anak didik) itu bisa lulus Unas dan bahkan lolos masuk perguruan tinggi yang diidamkan. Fakta memang menunjukkan bahwa tidak sedikit siswa yang memanfaatkan jasa LBB itu ternyata lulus Unas. Dari sini sebuah justifikasi kemudian mucul bahwa eksistensi LBB lebih dipercaya bisa ‘membuat’ siswa lulus Unas daripada sekolah. Sebagian kalangan pun kemudian berasumsi bahwa pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah tidak dipercaya bisa mengatasi soal-soal yang muncul di lembar Unas. Justifikasi inilah yang membuat kalangan guru terbelalak dan kemudian termemung. Mungkinkah keberadaanya di sekolah benar-benar tidak dipercaya hanya untuk sekedar mengantarkan para siswa lulus Unas?  Apakah benar menjamurnya LBB itu sebagai indikator kegagalan guru di sekolah dalam mendidik siswa?  

Banyak pihak yang (masih) menganggap Unas sebagai beban yang luar biasa berat yang harus dipikul oleh para siswa dan sekaligus orang tua. Oleh karena itu, selain belajar di sekolah, tidak sedikit siswa (orang tua) yang rela mengeluarkan dana besar untuk bergabung ke LBB tertentu dangan harapan bisa lulus Unas. Ini merupakan peluang besar bagi para pelaku dan pemilik bisinis LBB. Mereka mampu mendapatkan profit berlipat dengan memanfaatkan ‘kelemahan’ guru di sekolah. Sebagai mantan pembimbing belajar (tentor) di sebuah LBB ternama, penulis paham betul bagaimana proses pembimbingan belajar siswa di LBB semestinya dilakukan. Seorang tentor di LBB harus mampu menciptakan jurus-jurus jitu dalam menyelesaikan berbagai soal dalam mata pelajaran tertentu. Tidak hanya itu, seorang tentor juga dituntut memiliki sikap humoris, egaliter, dan familier terhadap para siswa yang dimbimbingnya. Apabila tidak mampu melakukan itu, ia tentu harus siap diberhentikan sebagai tentor. Jelas ia tidak akan disukai siswa yang di bimbing dan ini bisa mengakibatkan LBB itu tidak diminati siswa (konsumen) lagi. Dampaknya bisa lebih fatal, aliran dana sebagi tarif dari jasa yang ditawarkan juga akan berhenti. Jika tidak mau rugi dan dijauhi konsumen, kualitas layanan LBB tampaknya menjadi kunci dari seberapa besar aliran dana yang bisa diperoleh dari pengguna jasa (siswa atau orang tua). Akhirnya alasan akademis bukan satu-satunya prioritas bagi sebuah LBB, tetapi ekonomi tampaknya manjadi alasan utama untuk eksis.

 

Klasifikasi Materi Pembelajaran

Eksistensi sekolah dan LBB tampaknya mempunyai peran yang relatif berbeda, paling tidak dilihat dari materi pembelajaran yang disampaikan oleh dua lembaga tersebut. Dalam sebuah proses pembelajaran, materi pembelajaran diklasifikasikan menjadi empat kategori, yaitu fakta, konsep, prinsip, dan prosedur. Fakta berkaitan dengan berbagai nama objek, tempat, orang, pristiwa sejarah, bagian dari suatu benda dan lain sebagainya. Di lain pihak, konsep merupakan materi pembelajaran yang berkaitan dengan pengertian, definisi, hakikat, dan konten dari suatu pengetahuan. Sedangkan prinsip merupakan pengetahuan yang behubungan dengan dalil, rumus, postulat, adagium, dan paradigma. Terakhir, prosedur merupakan langkah-langkah bagaimana suatu pengetahuan diakuisisi. Keempat jenis materi ini bersifat hirarkis dan resiprokal, artinya penguasaan siswa terhadap jenis materi tertentu akan mempengaruhi penguasaan untuk jenis materi yang lain.

Seorang guru dalam melakukan sebuah proses pembelajaran di sekolah dituntut untuk menyampaikan keempat jenis materi pembelajaran tersebut secara utuh dan integratif. Tentu saja keempat jenis materi tersebut harus disampaikan dengan memperhatikan kompetensi dasar apa yang harus dikuasi siswa. Ilustrasi sederhana yang diberikan Alim Sumarno (2011) berikut mungkin bisa memperjelas pemahaman kita. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa mengingat nama suatu objek, simbol atau suatu peristiwa? Kalau jawabannya ya berarti materi yang harus diajarkan adalah konsep. Contoh: Seorang guru Biologi menunjukkan beberapa tumbuhan-tumbuhan kemudian siswa diminta untuk mengklasifikasikan atau mengelompokkan mana yang termasuk tumbuhan berakar serabut dan berakar tunggang. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa menjelaskan atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara urut? Bila ya maka materi yang harus diajarkan adalah prosedur. Contoh: Seorang guru Sosiologi mengajarkan bagaimana proses penyusunan langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan dalam mewujudkan masyarakat madani. Seorang guru fisika mengajarkan bagaimana membuat magnit buatan. Seorang guru kimia mengajarkan bagaimana membuat sabun mandi, dsb.

Ilustrasi tersebut memberikan penjelasan kepada kita bahwa seorang guru mempunyai waktu yang sangat terbatas dalam membimbing siswa untuk memahami dan mempraktikan pengetahuan tertentu sekaligus memberikan soal-soal untuk mengukur tingkat pemahaman dan performans mereka. Andaikan guru di sekolah mempunyai kesempatan untuk melatih soal-soal tertentu, waktu yang tersedia pun terbatas. Mengapa demikian? Karena guru di sekolah selain memberikan latihan soal-soal juga harus memberikan pemahaman kepada siswa mengenai fakta, konsep, prinsip, dan prosedur dari suatu pengetahuan tertentu. Seorang guru tidak boleh langsung memberikan latihan soal sebelum fakta, konsep, prinsip, dan prosedur dikuasai dengan baik oleh siswa.

Kondisi berbeda terjadi di LBB. Seorang tentor di LBB tidak perlu menjelaskan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur secara detail karena hal itu sudah dijelaskan oleh guru di sekolah. Selama dua atau tiga jam penuh, ia bisa langsung memberikan jurus-jurus jitu kepada siswa dalam mengerjakan soal-soal mata pelajaran tertentu. Lalu, apa jadinya apabila fakta, konsep, prinsip, dan prosedur dari suatu pengetahuan itu belum dijelaskan dan dikuasai siswa yang belajar di LBB? Apakah proses pembimbingan yang dilakukan berhasil optimal dalam membantu siswa untuk lulus Unas?  Sebenarnya apabila tidak ada kewajiban untuk menjelaskan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur kepada siswa, seorang guru di sekolah pun mampu memberikan berbagai strategi jitu agar sekedar lulus dalam Unas. Tetapi guru tentu tidak mau mengorbankan kepentingan siswa yang lebih luas.

Harus diakui bahwa eksistensi dan peran LBB sangat membantu bagi sebagian siswa untuk lulus Unas. Tetapi peran LBB juga tidak akan optimal tanpa ada peran guru di sekolah. Sebaliknya peran guru di sekolah juga sangat terbantu oleh peran LBB karena siswa mempunyai peluang lebih banyak untuk berlatih menyelesaikan berbagai variasi soal. Keduanya mempunyai peran yang dapat saling melengkapi. Oleh karena itu, tanpa mengesampingkan peran LBB, justifikasi bahwa eksistensi LBB lebih dipercaya bisa ‘membuat’ siswa lulus Unas daripada sekolah tampaknya tidak relevan. Masih perlu dikaji lebih lanjut apakah tanpa peran LBB akan terjadi banyak siswa yang tidak lulus Unas? Seberapa besar siswa di Indonesia yang ikut belajar dan tidak ikut belajar di LBB dan ternyata lulus Unas?.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: