Posted by: robertsumardi | September 10, 2008

Implikasi Pendekatan Andragogis dalam Pembelajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing*)

Oleh: Sumardi, M.Hum*)

A. Pendahuluan

Out put atau hasil belajar yang kurang optimal adalah permasalahan yang sangat sering muncul dari sebuah pelaksanaan proses pembelajaran. Ketidakmampuan siswa untuk memahami dan menguasai berbagai kompetensi dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diharapkan muncul dari sebuah proses pembelajaran merupakan indikasi ketidakberhasilan proses pembelajaran itu. Salah satu penyebab ketidakberhasilan sebuah proses pembelajaran itu adalah metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru di kelas tidak banyak merangsang dan mendorong siswa untuk mampu secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Para guru lebih banyak menempatkan dirinya sebagai orang yang “paling tahu” segalanya dan menempatkan siswa sebagai individu-individu yang “tidak banyak tahu” tentang suatu hal. Dengan demikian peran guru hanya semata-mata sebagai transmitter pengetahuan dan siswa sebagai penerima pengetahuan tanpa ada keleluasaan untuk memilih dan menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dari sebuah proses pembelajaran.

Ada kontras yang sangat mencolok antara pendekatan proses pembelajaran yang terjadi di negara-negara barat (Amerika, Australia, Belanda, dll) dengan pendekatan proses pembelajaran yang terjadi di Indonesia. Proses pembelajaran di negara-negara barat lebih banyak menerapkan pendekatan pembelajaran demokratis kolaboratif dengan banyak menempatkan siswa dan guru pada posisi setara. Siswa dan guru secara bersama-sama menentukan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Kondisi pembelajaran semacam ini menekankan segi humanistik, karena guru bukan merupakan satu-satunya penentu segala aktivitas pembelajaran. Selanjutnya peran guru lebih banyak sebagai fasilitator. Sebaliknya proses pembelajaran di Indonesia tampak sangat mekanistik dan tidak mengarahkan siswa untuk berpikir pada tataran tingkat tinggi, karena guru lebih banyak berperan sebagai transmitter pengetahuan dan siswa semata-mata menerima pengetahuan dari guru. Peran guru yang hanya sebagai transmitter pengetahuan ini pada akhirnya kurang mendorong siswa untuk kreatif dan tidak banyak terlibat baik secara fisik maupun mental dalam proses pembelajaran.

Permasalahan di atas banyak pula terjadi dalam proses pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (Teaching English as Foregin Language; TEFL) di Indonesia. Pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia, baik pada jenjang pendidikan dasar maupun menengah, lebih menekankan pada aspek pengetahuan bahasa, pemahaman isi wacana, juga lebih banyak hanya berorientasi pada hasil ujian yang ingin dicapai (ujian semester, ujian nasional, dsb), tetapi justru lebih banyak mengabaikan penguasaan aspek keterampilan komunikasi baik lisan maupun tulisan dalam bahasa Inggris. Pendekatan pembelajaran bahasa Inggris di kelas sangat berpusat pada guru (teacher-centered classroom). Hal ini berbeda dengan negara-negara barat yang menerapkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (English as Second Language; ESL), seperti Perancis, Jerman, Italia dan sebagainya. Pendekatan pembelajaran bahasa Inggris yang mereka terapkan banyak menekankan pada kemampuan berfikir kritis, penggunaan bahasa yang realistis, pembelajaran bahasa yang berpusat pada siswa (student-centered classroom) dan menekankan pula pada kualitas proses pembelajaran (Wang:2006). Secara lebih spesifik, pembelajaran bahasa Inggris di dunia barat tidak banyak menekankan pada aspek hafalan dan transfer pengetahuan bahasa seperti yang terjadi di Indonesia. Para guru di negara-negara barat lebih banyak percaya bahwa pendekatan yang mereka gunakan itu akan menkondisikan siswa untuk berfikir kritis yang memungkinkan untuk menciptakan banyak pengetahuan baru bagi siswa.

Dikotomi pendekatan pemebelajaran bahasa Inggris di atas merupakan sesuatu yang menarik untuk dicermati. Dalam konteks psikologi, pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered learning) diidentifikasi sebagai proses pembelajaran yang menerapkan prinsip-prinsip pendagogy, sedangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning) merupakan pendekatan pembelajaran yang menerapkan prinsip-prinsip andragogy. Selanjutnya dalam makalah ini akan membahas implementasi prinsip-prinsip andragogy dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia. Sebagaimana banyak diketahui bahwa guru-guru bahasa Inggris di Indonesia dalam mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa lebih banyak berorientasi pada hasil ujian formal (ujian semester, ujian nasional, dsb) dan kurang banyak memperhatikan penguasaan kompetensi berbahasa siswa. Paradigma pembelajaran ini terkesan kaku dan tidak banyak mengeksplorasi potensi siswa dalam belajar bahasa Inggris. Oleh karena itu, paradigma pembelajaran yang demikian harus segera dirubah ke paradigma pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran kolaboratif.

B. Filosofi Andragogy vs Pedagogy dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Seperti telah sedikit disinggung di depan bahwa ada perbedaan pendekatan pembelajaran bahasa Inggris yang terjadi di Indonesia dan termasuk juga di Cina dengan yang terjadi di negara-negara barat. Pendekatan pembelajaran bahasa Inggris yang terjadi di negara-negara barat cenderung membedakan antara pembelajaran untuk orang dewasa dengan pembelajaran untuk anak-anak; sedangkan pendekatan pembelajaran di negara-negara timur (Indonesia, Cina, dll.) menganggap tidak ada perbedaan yang mencolok diantara dua kelompok pembelajar tersebut dalam proses pembelajaran. Pendidikan untuk anak didefinisikan sebagai pedagogy karena sebenarnya pedagogy merupakan seni dan ilmu untuk mengajar anak-anak. Di dalam pedagogy, guru banyak berperan untuk mengontrol dan memutuskan apa saja yang akan dipelajari dalam sebuah proses pembelajaran, bagaimana suatu materi pelajaran itu harus dipelajari (menentukan metode belajar), dan kapan harus dilakukan proses pengukuran (assessment) hasil belajar. Siswa semata-mata tunduk dan mengikuti apa yang diajarkan oleh gurunya. Sebaliknya Knowles (1998) menyatakan bahwa andragogy didefinisikan sebagai suatu pendekatan pembelajaran untuk orang dewasa. Lebih lanjut andragogy dikarakteristikkan sebagai proses pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning), karena pembelajar, menurut pendekatan ini, dipercaya sebagai individu yang termotivasi untuk belajar secara internal (self-directed leaners). Ketika pembelajar termotivasi secara internal untuk belajar, maka guru harus memposisikan dirinya sebagai fasilitator dari sebuah proses pembelajaran. Karena posisinya sebagai fasilitator pembelajaran, maka guru tidak perlu mengontrol segala aktivitas pembelajaran yang sedang berlangsung. Malahan, fasilitator pembelajaran perlu menegosiasikan prioritas kurikuler apa yang perlu dicapai dari sebuah proses pembelajaran dengan para siswanya. Seorang fasilitator bisa saja memberikan kontrak pembelajaran kepada siswa. Seorang fasilitator perlu memposisikan dirinya sebagai pembantu belajar siswa (co-leaner) dan menganggap dirinya sebagai teman sejawat (peer) para siswanya.

Pendekatan pembelajaran andragogis memandang pendidikan sebagai suatu kesataraan. Artinya guru dan siswa dalam suatu proses pembelajaran berada pada posisi yang setara. Hal mendasar yang perlu dipahami adalah pendekatan andragogis memandang seluruh siswa mempunyai potensi untuk termotivasi dan terdorong secara internal (self-motivated and self-directed) untuk belajar guna memuaskan minat dan pengalamannya; memandang siswa mampu berfikir rasional dan besikap empatik dalam proses pembelajaran; memandang seluruh siswa mampu berpartisipasi dalam wacana kerja kolaboratif; memandang siswa mempunyai kemampuan berlatih secara mandiri; dan juga memandang siswa mampu bertindak secara reflektif (Mezirow, 2000; King and Wright, 2003; Merriam, 2004 di dalam Wang, 2006).

Secara filosofis aplikasi pendekatan pedagogis dan andragogis mempuyai konsep yang berbeda dalam sebuah proses pembelajaran bahasa Inggris. Di satu sisi, pendekatan pedagogis lebih menekankan pada upaya mentransmisikan sejumlah pengetahuan dan keterampilan berbahasa Inggris dalam rangka mempersiapkan siswa untuk menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Sebaliknya pendekatan andragogis lebih menekankan pada membimbing dan membantu siswa untuk menemukan pengalaman, pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam berbahasa Inggris dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Secara lebih konkrit, pendekatan andragogis memposisikan kegiatan pembelajaran bahasa Inggris harus:

1) berpusat pada masalah;

2) menuntut dan mendorong siswa untuk aktif dalam berbahasa Inggris secara realistis;

3) mendorong siswa untuk mengemukakan pengalamannya sehari-hari dalam bahasa Inggris;

4) menumbuhkan kerja sama, baik antara sesama siswa dan antara siswa dengan gurunya dalam mencari solusi permasalahan komunikasi berbahasa Inggris; dan

5) lebih bersifat memberikan pengalaman berkomunikasi bahasa Inggris, bukan merupakan transformasi atau penyerapan materi bahasa Inggris semata.

C. Aplikasi Pendekatan Andragogis dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Pembelajaran bahasa Inggris bukanlah semata-mata mengajarkan kepada siswa unsur-unsur pengetahuan bahasa, seperti tata bahasa (grammar), pelafalan (pronunciation), pilihan kata (diction), intonasi (intonation) dan daftar kosa kata (vocabulary), dan bukan pula pembelajaran yang hanya berorientasi pada hasil ujian (ujian semester, ujian nasional, dsb). Pembelajaran bahasa Inggris mestinya harus menekankan pada penguasaan kompetensi berbahasa oleh siswa dalam bentuk empat keterampilan berbahasa, yaitu membaca (reading), menyimak (listening), menulis (writing) dan berbicara (speaking). Dengan kata lain, kemampuan komunikatif harus menjadi fokus dalam pembelajaran bahasa Inggris. Ketika kemampuan komunikatif menjadi fokus dalam pembelajaran bahasa Inggris, maka pembelajaran tidak lagi semata-mata mentransfer pengetahuan bahasa secara parsial berupa unsur-unsur bahasa, seperti grammar, kosa kata dan sebagainya, tetapi pembelajaran bahasa Inggris harus mampu memberikan pengalaman bagi siswa untuk mampu menggunakan bahasa Inggris itu sebagai alat komunikasi nyata.

Pembelajaran bahasa Inggris yang menekankan pada kemampuan komunikatif ini tampaknya dapat dilakukan melalui pendekatan andragogis, karena pendekatan ini mensyaratkan adanya proses kolaboratif dalam proses pembelajaran guna menciptakan pengalaman berkomunikasi nyata. Hal ini sejalan dengan pendapat banyak pakar yang menyatakan bahwa guru-guru bahasa Inggris seharusnya mengikuti proses pembelajaran kolaboratif dalam menciptakan konteks komunikasi nyata, sehingga hasil proses pembelajaran bahasa itu menjadi optimal. Pendekatan andragogis dipercaya mampu menguatkan gerakan komunikatif dan proses pembelajaran kolaboratif. Sebagai contoh, pada saat pembelajaran reading comprehension. Ketika siswa diminta untuk memahami makna yang tersirat (reading between the lines) dari suatu teks, sering sekali siswa mengalami kesulitan. Pada saat siswa mendapatkan kesulitan dalam menemukan makna tersirat itu, guru tidak perlu menunjukkan makna atau informasi tersirat itu secara langsung kepada para siswa. Biarkan para siswa melalui keingintahuannya itu bekerja sama dengan kelompoknya untuk menemukan informasi yang diinginkan. Guru yang berperan sebagai fasilitator cukup memberikan petunjuk (clue), sehingga siswa mampu menemukan sendiri informasi yang tersirat dari teks atau wacana yang dihadapi. Konsep ini merupakan pendekatan pembelajaran bahasa Inggris berbasis andragogis yang berangkat dari permasalahan berkomunikasi dan kemudian dipecahkan secara kolaboratif.

Contoh lain yang menarik dalam pembelajaran bahasa Inggris berbasis andragogis adalah pada saat guru mengajarkan kemampuan menulis (writing skill). Pada saat guru meminta siswa untuk menulis sebuah jenis teks tertentu dalam bahasa Inggris, guru tidak perlu menentukan batasan tema yang harus ditulis oleh siswa. Perlu dipahami bahwa pembelajaran bahasa Inggris menurut kurikulum yang berlaku saat ini harus selalu berangkat dari jenis teks (genre), misalnya jenis teks recount, narrative, discussion, procedure, analitical exposition, exploratory exposition, dsb, maka guru cukup memberikan batasan pada jenis teks apa yang harus ditulis oleh siswa. Sedangkan tema apa yang harus ditulis oleh siswa diserahkan sepenuhnya kepada siswa itu sendiri. Kemudian berdasarkan minat dan pengalaman yang dimilikinya, siswa memilih salah satu tema yang akan dikembangkan dalam tulisannya. Misalnya guru menginginkan siswa mampu menulis jenis teks procedure yang berbicara mengenai langkah-langkah atau skuensi dalam melakukan suatu aktivitas tertentu, maka siswa berdasarkan pengalaman dan minatnya bisa memilih tema bagaimana posedur memasak nasi goreng, prosedur mengoperasikan komputer, prosedur merakit alat bermainnya, prosedur membuat alamat email di internet dan sebagainya. Siswa tidak akan mampu menulis dengan baik berbagai prosedur itu apabila tidak didasari pengalaman dan minatnya yang mendalam mengenai hal-hal tersebut. Proses pembelajaran menulis bahasa Inggris seperti ini akan lebih berhasil dibandingkan apabila guru harus memaksa dan menentukan tema tertentu yang harus ditulis oleh siswa, sedangkan siswa tidak mempunyai banyak pengalaman dan minat tentang tema yang harus ditulis itu. Pendekatan pembelajaran menulis seperti di atas sesuai dengan prinsip-prinsip andragogis yang menempatkan pengalaman dan minat siswa sebagai sumber belajar yang bermakna.

Relevansi pendekatan andragogis dalam pembelajaran bahasa Inggris juga bisa diterapkan dalam mengajarkan kemampuan berbicara (speaking skill). Ketika guru mengajarkan kepada siswa kemampuan berkomunikasi lisan dalam bahasa Inggris, guru tidak perlu menentukan batasan-batasan mengenai apa yang harus dibicarakan, kosa kata apa yang digunakan oleh siswa dalam berkomunikasi lisan, dan jenis grammar apa yang harus muncul dalam komunikasi lisan itu. Batasan-batasan yang ditentukan itu telah merefleksikan bahwa guru banyak mengontrol proses berfikir dan berkomunikasi siswa dan hal ini tidak sejalan dengan prinsip-prinsip andragogis yang menuntut siswa untuk berfikir kreatif. Siswa harus diberi keleluasaan untuk memformulasikan pengalaman masa lalunya dan menghubungkannya dengan pengalaman barunya dan kemudian diminta untuk mengkomunikasikan dalam bahasa lisan. Keterbatasan siswa dalam menguasai kosa kata dan lafal (pronunciation) kata jangan dianggap sebagai kendala komunikasi. Guru sebagai fasilitator harus menjembatani keterbatasan kemampuan komunikasi lisan yang dimiliki siswa dengan kemampuan yang sebenarnya harus dimiliki siswa dengan cara memberikan motivasi untuk berkembang.

Dalam membantu siswa untuk berkembang dalam komunikasi lisan itu, guru perlu menciptakan iklim pembelajaran kesetaraan. Maksudnya guru harus memposisikan dirinya sebagai teman belajar siswa yang senantiasa siap membantu siswa menemukan solusi dari kendala komunikasi yang muncul. Kendala komunikasi lisan yang dimiliki oleh siswa harus dieliminasi dengan cara-cara yang “ramah”. Kesalahan komunikasi lisan yang dilakukan oleh siswa harus dianggap sebagai proses alamiah dari sebuah proses pembelajaran bahasa Inggris.

D. Penciptaan Konteks Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Andragogy

Seperti telah disinggung di bagian sebelumya bahwa filosofi pembelajaran berbasis andragogy berakar dari pembelajaran yang didasari oleh pengalaman dan minat yang dimiliki oleh peserta didik. Dengan pengalaman dan minat yang dimiliki oleh peserta didik itu, pembelajaran akan lebih bermakna dalam membentuk komptensi yang diharapkan dikuasai oleh peserta didik itu. Hal ini senada dengan pendapat Hansman (2001) yang menyatakan bahwa belajar yang sebenarnya adalah belajar melalui pengalaman. Tanpa dilandasi pengalaman dan minat yang melatarbelakangi, proses pembelajaran akan sulit berkembang dan akhirnya hasil dari proses pembelajaran itu juga akan kurang optimal. Permasalahan yang kemudian muncul adalah bagaimana apabila peserta didik itu benar-benar tidak mempunyai pengalaman yang melatarbelakangi apa yang hendak dipelajari?. Apakah guru harus membiarkan begitu saja siswa yang tidak mempunyai latar belakang pengalaman itu dan langsung meberikan bahan ajar yang harus dikuasai siswa? Bagaimana guru seharusnya mengatasi permasalahan ini?

Prinsip pembelajaran berbasis andragogy mensyaratkan bahwa guru tidak boleh begitu saja mengabaikan aspek pengalaman yang harus dimiliki oleh siswa, karena pengalaman merupakan sumber belajar yang sangat bermakna. Ketika sebagian atau keseluruhan dari peserta didik itu tidak mempunyai latar belakang pengalaman yang menunjang proses pembelajaran, guru harus terlebih dahulu memberikan pengalaman imitatif melalui penciptaan konteks. Gagasan mengenai konteks yang dijadikan sentral dari sebuah proses pembelajaran menjadi suatu hal yang sangat menarik untuk didiskusikan. Wilson (1993) menyatakan bahwa pembelajaran yang terjadi dalam suatu konteks tertentu akan mengarahkan siswa menjadi lebih “tertantang” untuk aktif berinteraksi dengan siswa lain dalam suasana belajar lebih menyenangkan.

LeGrand Brandt, Farmer, dan Buckmaster dalam Hansman (2001) menyatakan bahwa upaya guru dalam menciptakan konteks untuk membentuk pengalaman siswa dapat dilakukan diantaranya melalui pemodelan (modeling), karena pemodelan ini mampu mengarahkan siswa untuk mengamati performa dari suatu kegiatan yang dilakukan oleh orang yang mempunyai pengalaman nyata. Kegiatan pemodelan oleh orang yang berpengalaman ini akan memberikan topangan (scaffolding) bagi siswa untuk berkreasi dalam belajar.

Penciptaan konteks dapat pula dilakukan oleh guru melalui berbagai alat bantu pembelajaran, misalnya komputer, peta, gambar-gambar, gelas ukur dan sebagainya. Kaitannya dengan pembelajaran bahasa Inggris, ketika guru ingin mengajarkan kemampuan berbicara (speaking skill), guru bisa meminta siswa untuk bermain peran yang anggotanya terdiri dari beberapa siswa. Sebagai ilustrasi, misalnya sesuatu yang ingin diperankan siswa adalah suasana kesibukan di bandara bagi para penumpang yang ingin melakukan perjalanan jauh. Sedangkan beberapa di antara siswa belum pernah sama sekali naik pesawat. Ini berarti bahwa siswa itu tidak mempunyai pengetahuan sama sekali bagaimana kesibukan penumpang yang terjadi di bandara. Dengan demikian ada kesenjangan (gap) pengalaman yang dialami oleh sesama siswa. Permasalahan ini bisa diatasi oleh guru dengan memberikan pengalaman melalui penciptaan konteks. Guru perlu menyusun setting ruang belajar itu menjadi bagian-bagian mirip seperti yang ada di bandara, mulai dari ticketting counter, security checking, waiting room dan sebagainya, kemudian guru perlu menjelaskan fungsi dari masing-masing bagian dalam bandara tersebut. Dengan demikian siswa akan terbangun pengalamannya dan akhirnya siswa mampu melakukan dialog berbahasa Inggris dalam konteks kesibukan penumpang di bandara.

Pada dasarnya kemampuan berbicara (speaking skill) dan kemampuan menulis (writing skill) dalam pembelajaran bahasa Inggris dikategorikan sebagai kemampuan poduktif (productive skill). Maksudnya adalah siswa diminta memproduksi dan menuangkan gagasan, pikiran dan perasaannya dalam ungkapan yang bermakna dengan bahasanya sendiri. Kemampuan produktif ini tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak didukung pengalaman memadai yang dimiliki oleh siswa. Dalam hal ini peran guru menjadi sangat penting dalam upaya penciptaan konteks dalam rangka membentuk pengalaman imitatif siswa agar mampu menghasilkan berbagai ungkapan komunikatif yang bermakna.

Sebagai upaya dalam menciptakan konteks dalam pembelajaran bahasa Inggris berbasis andragogi, ada beberapa aktivitas pembelajaran bahasa Inggris yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Bermain Peran (Role-Plays)

Role-plays merupakan proses pembelajaran kolaboratif dan merupakan metode yang sangat baik dalam upaya menciptakan konteks komunikasi. Tetapi, banyak siswa yang sering mengalami hambatan ketika diminta bermain peran (yaitu, memerankan orang lain) untuk menciptakan konteks berkomunikasi yang realistis. Alasannya adalah aktivitas ini memerlukan acting dan improvisasi yang oleh beberapa siswa dianggap memerlukan bakat khusus. Kondisi ini perlu dipahami oleh guru, tetapi tidak selanjutnya harus meniadakan kegiatan ini. Dalam konteks pembelajaran bahasa, bermain peran hanya dimaksudkan untuk menciptakan pengalaman siswa untuk berkomunikasi dalam “dunia nyata”, bukan mementingkan aspek “pertunjukan” dari peran siswa itu.

Permasalahan tersebut bisa diatasi dengan memberikan penjelasan singkat mengenai peran masing-masing siswa dalam role-plays itu dan perlu dijelaskan pula bahwa yang dipentingkan dalam bermain peran itu adalah keberanian siswa dalam memproduksi ungkapan-ungkapan komunikatif . Proses pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing tidak akan banyak berhasil apabila proses pembelajaran itu tidak dikaitkan dengan konteks yang mampu merangsang siswa untuk mampu memproduksi ungkapan-ungkapan yang bermakna. Seperti Byrne (1976) yang mengatakan bahwa: “Di dalam role-plays, guru tidak perlu banyak memperhatikan aspek penampilan siswa dalam kegiatan itu, tetapi yang penting adalah guru bisa menciptkan konteks situasi yang bermakna yang mampu memberikan pengalaman bagi siswa untuk berkomunikasi dalam konteks yang realistis.

2. Pelatihan (drilling) Komunikasi

Sering sekali ditemui bahwa ketika guru bahasa Inggris mengajarkan grammar kepada para siswa, mereka sering meminta siswa menghafal berbagai istilah, misalnya berbagai tenses, concord, subjunctive, dangling, conditional sentence dan sebagainya, yang justru menambah kesulitan siswa dalam belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Proses pembelajaran ini tampaknya sangat mekanistik dan lebih mementingkan aspek kognitif daripada psikomotorik. Pembelajaran grammar dapat pula dilakukan dengan memberikan konteks yang mampu mendorong siswa untuk berfikir kritis dalam berkomunikasi dengan menggunakan grammar yang diharapkan dikuasai oleh siswa.

Dalam memecahkan permasalahan belajar yang berkaitan dengan penggunaan grammar tertentu, siswa perlu banyak diberi latihan untuk mengaplikasikan grammar itu dalam komunikasi yang realitis tidak sekedar mengetahui aspek-aspek grammar itu saja. Konteks yang bisa digunakan untuk merangsang minat dan pengalaman siswa itu di antaranya dapat dilakukan dengan mendesign aktivitas kolaboratif seperti menjawab pertanyaan yang bersifat open-ended, mendeskripsikan gambar atau kartun dan sebagainya. Kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah latihan menerjemahkan beberapa kalimat atau teks yang mengandung struktur kalimat yang perlu dikuasai siswa. Kegiatan-kegiatan ini tentu saja menghendaki daya pikir kritis siswa yang merupakan karakteristik dari pengajaran berbasis andragogi.

3. Penugasan

Untuk merangsang siswa mampu mengaplikasikan bahasa Inggris dalam komunikasi yang lebih realistis, siswa perlu ditugasi untuk mengaplikasikan kemampuannya dalam berbahasa Inggris dalam situasi nyata. Misalnya, siswa diminta datang ke berbagai tempat wisata dan bertemu dengan beberapa turis asing yang berbahasa Inggris untuk diwawancarai. Hasil wawancara itu harus direkam dan pada kesempatan lain harus dilaporkan kepada guru. Kegiatan ini selain melatih tingkat kepercayaan siswa akan kemampuan bahasa Inggrisnya, juga mampu memberikan pengalaman bagi siswa itu untuk beromunikasi bahasa Inggris dalam konteks yang sangat realistis.

Tugas lain bisa pula dalam bentuk browsing internet untuk mencari informasi tertentu yang berkaitan dengan tema yang dibicarakan di kelas. Kerja ini perlu dilakukan secara kelompok, sehingga setiap anggota bisa saling berdiskusi untuk menyamakan persepsi mereka berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi. Pada tahap selanjutnya siswa harus melaporkan hasil browsing atau pencarian itu di muka kelas yang tentu saja dalam bahasa Inggris. Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan wacana pengalaman bagi siswa tentang sesuatu masalah yang belum diketahui sebelumnya. Dengan demikian, siswa dapat dengan mudah mndapatkan materi yang bisa dilaporkan di muka kelas.

E. Penutup

Model pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terkesan mekanistis dengan menempatkan guru sebagai orang yang paling banyak tahu dan menempatkan siswa sebagai kelompok individu penerima pengetahuan dari guru dipercayai kurang banyak berhasil. Ketidakberhasilan itu ditandai dengan ketidakmampuan siswa untuk berfikir kritis dalam menciptakan suasana komunikasi bahasa Inggris yang bermakna. Bahkan proses pembelajaran seperti itu tidak mampu mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Kemampuan guru dalam mendesign proses pembelajaran yang menarik, inovatif dan menantang merupakan kunci keberhasilan dari proses pembelajaran itu.

Pendekatan andragogis merupakan suatu pendekatan yang perlu dicoba dan diimplementasikan dalam proses pembelajaran bahasa Inggris. Pendekatan ini mensyaratkan guru dan siswa secara bersama-sama menentukan aktivitas pembelajaran yang bermakna, sehingga mampu mendorong siswa untuk aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Pada dasarnya keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran merupakan kunci keberhasilan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Semakin aktif keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Inggris, maka akan semakin berhasil suatu proses pembelajaran itu. Pendekatan andragogis, walaupun mungkin baru sekedar impian, merupakan sebuah solusi untuk meningkatkan efektivitas keberhasilan proses pembelajaran bahasa Inggris itu.

Daftar Referensi

Barnes, Douglas. 1975. From Communication to Curriculum. Harmonsworth Middlesex: Penguin Publisher

Hansman, Chaterine A. 2001. Context-Based Adult Learning in S. Meriam (ed), An Update on Adult Learning Theory. New Directions for Adult and Continuing Education, no. 57. San Fransisco: Jossey-Bass.

Knowles, Malcolm. 1978. The Adult Leaner: A Neglected Species (2nd Ed). Houston: Gulf PublishingCompany.

Knowles, M.S., Holton, E., & Swanson, A. 1998. The adult Learner. Houston. TX: Gulf Publishing Company

Salovey, Peter et al. 2004. Emotional Intellegence. New York: Dude Publishing

Sarjilah. 2006. Makna Pengembangan Manusia pada Pelatihan Guru. LPMP D.I. Yogyakarta

Wang, Victor C.X. 200. Implementing Andragogy in Teaching English as a Foreign Language (TEFL) in China: A Dream yet to be Realized. Long Beach, USA: California State University

Wilson, A.L. 1993. The Promise of Situated Cognition in S. Meriam (ed), An Update on Adult Learning Theory. New Directions for Adult and Continuing Education, no. 57. San Fransisco: Jossey-Bass.

*) Sumardi, M.Hum

Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Sragen dan mahasiswa program doktor Universitas Negeri Yogyakarta


Responses

  1. pakdhe, tulisan,paper, makalah yang lain mannaaaa?

    Semoga thesisnya cepat selesai, fly up higher …

    sukses selalu

  2. Assalamu’alaikum Pak Mardi,

    Pembelajaran Bahasa Inggris secara khusus maupun pembelajaran Mata pelajaran lain seharusnya dirancang sedemikian rupa sehingga menjadikan pembelajaran yang efektif.
    Pendidikan kesetaraan seyogyanya mendukung ke arah pembelajaran yang efektif pula yang muaranya adalah autonomous students.
    Tentu saja ada faktor-faktor yang mempengaruhi ketercapaian pembelajaran tersebut, tidak hanya dari faktor guru maupun pendekatan yang dipakai. Faktor lain yang berperan adalah siswa dan institusi di mana proses tersebut terjadi.
    Maka selayaknyalah ada saling keterkaitan dan integrasi di antara elemen tersebut.

    Thanks.

    wassalamu’alaikum wr. wb.

    Nb. Be commit to our ideal as the teachers.

  3. Saya sudah baca teks diatas dan saya tertarik beberapa acuan yg dapat membantu saya dalam mengajar bhs.inggris.
    Mohon kirimkan teks tsb ke email saya.
    Trima kasih

  4. GIMANA CARA MEMBUAT ARTIKEL TENTANG TEMANYA BERMAIN PERAN DALAM BAHASA INGGRIS

    • Pertama, Saudara harus mempunyai pengalaman yang mencukupi dalam seni bermain peran, terutama bermain peran dalam bahasa Inggris. Kemudian, kaji teori secara luas dan mendalam mengenai seni bermain peran dan implikasinya dalam pembelajaran bahasa Inggris. Setelah itu, Saudara harus membuat refleksi yang merupakan abstraksi dari pemikiran Saudara tentang urgensi pembelajaran bahasa Inggris melalui seni peran. Tuangkan pikiran Saudara tentang berbagai kekuatan dan mungkin juga, jika ada, kendala mengenai pembelajaran bahasa Inggris melalui seni peran tersebut. Semoga bermanfaat ….!!!

  5. APA BAPAK PUNYA CONTOH RPP BAHASA INGGRIS BERBASIS PENDEKATAN TEXT GENRE. KALAU ADA MOHON BERKENAN SAYA DI EMAIL : INI EMAIL SAYA: aris_lmg@yahoo.co.id

  6. Maaf, pak. Tolong beri saya referensi yang tepat untuk tesis dgn tema BILINGUAL dan penerapannya di Indonesia


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: